Minggu, 08 Desember 2013
Istilah Sugar Glider Lover
SUGAR GLIDER (PETAURUS BREVICEP) - MAGELANG
Selasa, 03 Desember 2013
ASI MAKANAN YANG HIDUP
Kamis, 03 Januari 2013
Chapter 1 The Beginning-Waste Management & SymbioCity
Rabu, 27 April 2011
Prajab golongan III angkatan 13 Hendra Subiyanto Kramajaya
Rabu, 29 April 2009
KEJUJURAN BAGAIKAN MATA UANG
Oleh : Hendra S Kramajaya
300409
Sejak kapan kejujuran menjadi mata uang?,sejak manusia mengukur segala segala sesuatu dengan materi dan keberhasilan didunia. Bukankah salah satu syarat sebuah mata uang adalah harus mampu dipertukarkan?, siapa bilang kejujuran tidak mampu dipertukarkan, kejujuran memiliki makna yang lebih luas bukan sekedar mampu dipertukarkan, kejujuran mampu menjadi bekal kemana saja kita pergi, kemanapun kita pergi bekal berupa kejujuran mampu membawa kita menuju tujuan yang mulia, kejujuran ibarat peta dan kompas penunjuk arah dan lokasi, kejujuran bahkan mampu menjadi rompi anti celaka jika anda selalu menggunakanya. Membawa bekal mata uang kejujuran harus digunakan dengan sikap yang bijaksana dan cerdas karena inti dari bijaksana dan cerdas adalah kejujuran itu sendiri.
Para pengusaha yang sukses dalam karier dan kehidupan tahu betul tentang prinsip kejujuran, mereka menjadikannya pelita hati dalam berbisnis. Hati yang diterangi pelita kejujuran akan menebarkan air muka yang teduh dan menentramkan, kata kata yang terucapun bagaikan mantra hipnotis bagi lawan bicara karena kata yang dikeluarkan adalah bahasa hati, tentu anda semua tahu bahwa bahasa hati adalah bahasa yang diterima secara universal dimanapun anda bicara lawan bicara pasti akan memahaminya. Banyak juga sebenarnya para pengusaha yang sukses dalam karier yang tidak menyematkan kejujuran dalam hati akibatnya mereka tidak sukses dalam kehidupan hal ini berarti bahwa sesungguhnya mereka tidak sukses secara utuh, mereka melakukan tradeoff mengorbankan kesuksesan karier atau usaha namun mengorbankan kesuksesan kehidupan, padahal kesuksesan kehidupan merupakan salah satu jembatan kesuksesan dialam keabadian, alam akhirat.
Muhammad yang seorang nabi umat muslim namun juga seorang pengusaha, pengusaha yang sukses dan syarat utama kesuksesannya adalah prinsip kejujuran, beliau selalu memberi tahu calon pembelinya tentang kondisi barang yang akan dijualnya misalnya kondisi kekurangan dan kelebihanya. Prinsip kejujuran ini memiliki sedikitnya tiga implikasi, yang pertama adalah dari sudut pandang penjual.penjual akan merasa puas didalam hati karena terdapat saling pengertian dan keterbukaan mengenai barang yang dijual kepada pembeli sehingga tidak ada rasa bersalah telah menjual barang dengan kondisi barang tertentu.implikasi kedua,bagi pembeli, pembeli tidak akan merasa kecewa dengan barang yang dibelinya karena dia tahu betul mengenai kondisi barang yang dibelinya sehingga dia iklas ketika mengeluarkan uang untuk membeli barang itu..dan yang ketiga adalah terjadinya rasa puas dan tenteram antara penjual dan pembeli terhadap transaksi yang mereka lakukan dan implikasi ketiga ini mampu memberikan efek yang baik bagi kelangsungan bisnis bagi penjual.
Dengan kejujuran anda tidak perlu mengingat-ingat apapun yang anda katakan. Karena apa yang anda katakan dengan jujur akan tersimpan dalam perekam yang luar biasa kuat yaitu nurani, artinya anda mengatakan apa adanya tentang kondisi tertentu yang membutuhkan ungkapan anda dalam kata-kata sehingga penilaian yang anda lakukan adalah penilaian yang sebenarnya sudah melekat dalam diri anda dan siapa sejatinya anda.
Kejujuran memberi anda penghargaan yang setimpal, anda mungkin akan merangkul kenikmatan dan kepuasan dunia dalam waktu yang sesaat ketika anda melepaskan baju kejujuran anda. Namun dalam jangka panjang anda akan menyesal bahwa kenikmatan yang anda peroleh mengerucut menjadi bencana bagi anda sehingga anda akan sangat menyesal melepas baju kejujuran yang dulu anda pernah pakai, anda akan rindu dengan harumnya baju itu dan rasa tenteram ketika memakai baju itu. Penghargaan atas kejujuran adalah menjadikan anda menjadi orang yang lapang dada dan merasa bahwa kebahagiaan yang anda miliki saat ini adalah karena berkembangnya sikap sikap kejujuran dalam diri anda. Karena kejujuran bersifat berkembang dan membentuk selimut yang menentramkan hati anda.Itulah penghargaaan yang setimpal dari kejujuran yaitu kenikmatan sejati.
Kejujuran tidak lekang oleh musim, karena ia tidak mengenalnya. Anda harus jujur pada setiap musim, sampaikan dengan bijaksana dan pilih kata dengan hati hati. Dimanapun ruang dan waktu selalu ada kejujuran sehingga kejujuran adalah sebuah materi dari ruang dan waktu itu sendiri, ia tidak layak hanya berada disatu tempat, namun dimana saja karena kejujuran adalah bawaan lahir dari manusia yang diberikan Tuhan untuk menentramkan hati dan lingkungan yang ada disekitar manusia yang menggunakannya. Kejujuran adalah sebuah piala dari tuhan yang dijadikan pelita dan suar bagi manusia dimanapun tempat dan waktu ia akan terangi kita sehingga kita selalu merasa luas pandangan dan segar dalam tiap hirupan nafas, karena ia akan memberi nafas kehidupan bagi anda, anda akan merasa hidup dan mengerti sejatinya apa tujuan hidup.Jadi sangat sederhana sebenarnya mantra dan mata uang untuk bekal kita dalam hidup ini yaitu kejujuran.
Kamis, 29 Januari 2009
Hunger Paradox di negeri Yavadwipa
Rumah BaikHati Consultant., Pemerhati sosial dan ekonomi, tinggal di Semarang, E-Mail: rumahbaikhati@yahoo.co.id
Hunger Paradox di negeri Yavadwipa
Melambungnya harga beras dunia akan menyumbang inflasi terbesar pada tahun ini dan akan menyiksa 2,5 miliar penduduk negara berkembang yang bergantung pada beras, termasuk Indonesia. Food and Agriculture Organisation (FAO) pada tahun 2007 melaporkan bahwa pada saat ini penduduk dunia mengalami kekurangan pangan dan mengancam menurunnya tingkat kesehatan, kecerdasan, bahkan kelangsungan hidup umat manusia. FAO juga membandingkan ketersediaan pangan pada tahun 1999 dengan tahun 2006, stok pangan pada tahun 1999 mencapai 116 hari, sedangkan tahun 2006 maksimal hanya 57 hari. Jika prediksi akan kebutuhan beras global pada tahun 2025 diperkirakan 800 juta ton per tahun, sedangkan kemampuan produksi beras global kurang dari 600 juta ton per tahun, maka jelas harga komoditas beras akan makin sulit dijangkau. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan bagi Indonesia karena berbagai faktor diantaranya adalah gagal panen dibeberapa lumbung padi nasional. Mengacu laporan dari Departemen Pertanian Nasional (2008) di pulau Jawa sebagai sentra pemasok 65 persen produksi beras nasional telah mengalami gagal panen karena banjir dan banjir telah merusak tidak kurang 66.276 hektar lahan tanaman padi.
Fakta menunjukan bahwa Indonesia di tingkat dunia menempati posisi sebagai negara terbesar di dunia dalam mengkonsumsi beras, untuk tahun 2008 Perum Bulog memperkirakan kebutuhan beras nasional sejumlah 2,8 juta-3 juta ton per tahun (kompas, 24/03/08). Tingginya konsumsi beras mengakibatkan beras yang dihasilkan setiap tahun, tidak mencukupi kebutuhan nasional. Konsumsi beras yang sangat tinggi ini tanpa sadar didorong oleh usaha pemerintahan pada awal orde baru yang meninggikan gengsi beras, walau kemudian sempat dikoreksi dengan Program Diversifikasi Pangan dan Gizi. Pada masa itu pemerintah mencoba mengubah pola konsumsi bahan pangan asli penduduk, misalnya jagung di Madura dan sebagian daerah di pulau Jawa, sagu di Maluku, talas dan ubi di Papua. Akibatnya, konsumsi beras per kapita terus meningkat.
Pangan Alternatif
Pemerintah bisa mengupayakan sistem ketahanan pangan (food security) yang berbasis pada keragaman sumber daya bahan pangan dan perlu mengubah paradigma bahwa beras adalah makanan utama karena Indonesia memiliki banyak sumber pangan lain. Dahulu Bung Karno kerap mengundang wartawan dan diplomat asing untuk sarapan bersama di Istana Negara dengan menu ubi dan singkong untuk membuktikan beras bukan segalanya bagi rakyat Indonesia. Sejarah juga membuktikan pulau Jawa dikenal dengan sebutan Yavadwipa berasal dari bahasa Sanskrit. Yava berarti barley. Barley merupakan sejenis bahan pangan yang bisa diproses seperti halnya beras maupun gandum. Perbandingan yang menarik mengenai barley dengan bahan pangan lain yaitu: bila kita baru merasa kenyang dengan makan 4 potong roti terigu atau 3 potong roti gandum namun dengan barley cukup 1 potong roti saja. Bahkan dahulu India pernah mengimpor barley dari Jawa ketika kelembaban di India meningkat drastis. Barley juga sangat efektif untuk mengurangi gejala rematik maupun masuk angin yang sering kali menjadi keluhan orang Indonesia. Namun karena warna barley ketika diolah menjadi roti tidak seputih bahan dari terigu dan gandum maka roti barley menjadi kurang diminati.
Memang benar mensubtitusi beras dengan sumber makanan pokok lainnya adalah urusan yang sangat panjang, sepanjang peradaban bangsa ini. Serta kelangkaan beras oleh sebagian kalangan dikatakan sebagai amunisi yang dahsyat bagi pecahnya revolusi dari kalangan miskin. Pada tahun 1966, salah satu amanat tritura adalah turunkan harga, termasuk harga beras, Bung Karno jatuh bisa dikatakan karena keadaan perberasan. Demikian pula dengan pemerintahan Pak Harto jatuh karena melonjaknya harga beras yang berlipat ganda. Sejarah juga mencatat kerajaan Jawa ketika pemerintahan Amangkurat I di Mataram jatuh karena masalah pangan, khususnya beras, karena masa paceklik yang panjang menyebabkan kurangnya persediaan beras pada zaman itu. Oleh karena itu pula beras dapat dianggap mewakili bentuk ekonomi Indonesia secara umum, karena pengaruhnya dalam bidang ekonomi dan politik sangat besar.
Pertanyaannya adalah, apakah bangsa ini tidak bersedia belajar dari sejarah perberasan, apakah setiap pemerintahan akan runtuh karena perberasan? Jawabannya adalah meskipun urusan subtitusi beras adalah urusan yang sangat panjang, sepanjang peradaban bangsa ini, bangsa ini harus melakukan langkah awal untuk berubah meninggalkan status quo perberasan. Seperti kata Sir Isaac Newton bahwa benda cenderung menyukai status quo, enggan untuk bergerak. Padahal sebuah kemajuan akan tercapai jika kita bersedia untuk bergerak dan berubah posisi. Langkah awal perubahan posisi adalah merubah dominasi ketergantungan pada satu jenis bahan pangan secara bertahap sehingga kasus hunger paradox tidak perlu tejadi di Indonesia karena subtitusi beras seperti jagung, ubi, singkong dan barley menjadi bahan pangan yang mampu mencukupi ketersedian kalori dan protein diatas kebutuhan gizi sehingga gizi buruk dan busung lapar hilang dari kamus bahasa Indonesia.
Negeri Baru
Pada dasarnya petani selalu dalam posisi lemah, meskipun harga beras dunia melambung tinggi, kita bisa menyimak berita nasional bahwa selalu terjadi ironi bahwa harga gabah dibeberapa daerah mengalami penurunan. Dalam hal ini regulasi dari pemerintah sangat diperlukan dan direpresentasikan pada suatu badan seperti Perum Bulog karena jika melihat kondisi yang ironi seperti ini tidak mustahil petani akan enggan dan berhenti menanam padi. Badan yang meregulasi dan menangani bahan pangan pokok telah dimulai di Indonesia sejak zaman pemerintahan Hindia-Belanda dengan dibentuknya Voeding Middelen Fonds (VMF) Kemudian selama masa pendudukan Jepang diubah menjadi Sangyobu-Nanyo Kohatsu Kaisa.
Selain mengupayakan regulasi sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumber daya bahan pangan pemerintah harus melakukan perlindungan untuk kaum petani dan memajukan sistem pertanian padi sehingga bisa seiring-sejalan antara langkah perubahan untuk kemajuan keragaman sumber daya bahan pangan dan upaya food security. Perubahan paradigma dalam sumber daya pangan nasional dan sistem politik pertanian yang tegas dan konsisten menciptakan Indonesia yang mandiri dalam food security dan menciptakan generasi Indonesia yang tangguh. Cita-cita kemerdekaan yang hakiki seperti pidato Bung Hatta bahwa kemerdekaan berarti mempunyai kekuasaan sendiri, dan dengan kekuasaan itu bangsa ini bisa mengerahkan segenap daya dan upaya untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran negeri ini, kemakmuran bukan hanya dalam arti fisik, tapi juga rohani(Kumpulan Pidato III, Inti Daya Press).
Inilah kondisi negeri baru yang mahardhika yang diimpikan para founding father, Indonesia yang tangguh, penuh optimisme, sebagai mercusuar dunia, mampu dalam kemandirian hidup, kebebasan yang bertanggung jawab. Namun semuanya jangan sampai runtuh dari kejayaan dan impian, menjadi puing-puing sinisme dan keputusasaan hanya karena anak bangsa yang telah mahardhika secara politik (political independence) tiada mampu mengelola ketahanan pangan nasional.Bangkitlah Bangsaku!!
Minggu, 09 November 2008
Hemat Tanpa meninggalkan zakat
Hemat Tanpa Meninggalkan Zakat
“Sesungguhnya setiap umat mempunyai ujian, dan ujian bagi umatku adalah harta.”
(HR. At -Tirmidzi no.2336, dishahihkan oleh Al-Albani ra dalam shahihul jami’ no. 2148)
Rasulullah senantiasa memperingatkan umatnya dari bahaya fitnah (ujian) berupa harta, seperti hadist yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi diatas. Dari hadist diatas kita sebagai umat Muhammad disarankan senantiasa berlaku bijaksana terhadap harta, karena sesungguhnya harta merupakan ujian terberat bagi kaum Muhammad selain itu harta hanyalah titipan dari Allah SWT, seandainya Maha Pencipta menghendaki harta yang dititipkan pada kita ini untuk diambil maka tiada mampu dan kuasa diri kita menolaknya.
Harta juga berpeluang membuat diri kita menjadi orang yang tersesat karena tidak mampu memanajemen harta, seringkali dengan berlimpahnya harta kita berperilaku boros dan menghamburkan uang untuk hal-hal atau kebutuhan sekunder yang tidak begitu penting untuk kita konsumsi bahkan kita juga terkadang tidak mampu mengendalikan diri kita untuk melakukan transaksi yang mengarah pada hal-hal negatif misalnya transaksi yang diharamkan atau bermotif riba. Maka alangkah bijaksananya jika kita selalu berhati-hati mengelola harta dan memohon petunjuk kepada Allah pemilik harta yang sesungguhnya agar kita tidak terjerumus dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan, karena Allohlah tempat terbaik untuk bergantung dan memohon agar kita selalu diingatkan untuk tidak tersesat, seperti firman Allah yang terekam dalam Al Quranul Karim Surat Al A’raf Ayat 178 yang artinya:
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka merekalah orang-orang yang merugi.
Jika kita senantiasa berfikir bahwa harta sebagai barang titipan dari Allah, maka diri kita akan lebih mampu mengendalikan diri dalam mengelolanya dan mendapat petunjuk pada jalan yang lurus bukan jalan orang yang tersesat atau dimurkai Allah.
Kehidupan modern memfasilitasi kita dengan berbagai kemudahan sekaligus godaan dalam mengelola harta. Jika kita sebagai seorang karyawan yang memiliki penghasilan tetap dalam rentang bulanan kita harus mampu mengelolanya dengan perhitungan yang tentunya akan lebih akurat karena kita tahu berapa pendapatan rata rata atau pendapatan tetap kita perbulan yang akan kita alokasikan untuk kebutuhan kita satu bulan kedepan sampai kita mendapatkan gaji lagi. Perhitungan Sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menghitung forecasting/perkiraan berapakah pengeluaran yang akan kita alokasikan untuk kebutuhan kita dalam 1 bulan kedepan kita. Tentunya harus disesuaikan dengan pendapatan yang kita peroleh.
Misal, kita seorang karyawan yang memiliki gaji tetap Rp. 2.000.000,00- per bulan dengan status single, anak kos dan berdomisili di Yogyakarta, kita bisa melakukan perhitungan sederhana sebagai berikut:
Perkiraan Pengeluaran :
Makan perhari Rp. 15.000 X 30 hari Rp. 450.000
Biaya kos dan listrik Rp. 200.000
Bensin motor 30 lt/bln X Rp.6000 Rp. 180.000
Pulsa Rp. 150.000
Lain-lain Rp. 250.000
____________ +
Rp. 1.230.000
Zakat 2.5% X Rp 2.000.000 Rp. 50.000
Saving: Rp. 500.000
Tabungan Berencana BSM Rp. 220.000
____________ +
Rp. 2.000.000
Perhitungan ini dapat disesuaikan dengan penghasilan kita masing-masing, status perkawinan serta domisili kita. Domisili mempengaruhi tingkat alokasi kita akan kebutuhan makan dan biaya tempat tinggal serta kebutuhan lain-lain karena setiap daerah memiliki tingkat inflasi yang berbeda, dan kita masih berada pada lingkungan ekonomi konvensional yang masih sangat rentan dengan inflasi tinggi dan adanya Purchasing Power Parity atau tingkat perbedaan daya beli dan harga kebutuhan yang ada di suatu daerah.
Pos zakat profesi merupakan bentuk ibadah kita kepada Tuhan dan bentuk kepedulian kita kepada orang lain karena sebagian harta kita adalah milik kaum dan saudara yang kurang beruntung lainnya. Zakat profesi sendiri berarti zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun yang dilakukan bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan yang memenuhi nisab. Contohnya adalah profesi dokter, konsultan, advokat, bankir, dosen, seniman, dll. Sedangkan tingkat nisabnya sebagian ulama memiliki 2 pendapat, yaitu:
Setelah diperhitungkan selama satu tahun Nisabnya adalah jika pendapatan satu tahun lebih dari senilai 85 gr emas dan zakatnya dikeluarkan setahun sekali sebesar 2,5% setelah dikurangi kebutuhan pokok.
Dikeluarkan langsung saat menerima, pendapat ini dianalogikan pada zakat tanaman pertanian. Jika pendapat ini yang diikuti, maka besar nisabnya adalah senilai 653 kg beras dan dikeluarkan setiap menerima penghasilan/gaji sebesar 2,5% tanpa terlebih dahulu dipotong kebutuhan pokok terlebih dahulu (seperti petani ketika mengeluarkan zakat hasil panennya).
Memang sebagian ulama berbeda pendapat mengenai masalah yang berkaitan dengan zakat profesi, ada yang memandang wajib dan perlu namun ada juga yang memandang pada sisi lain bahwa zakat profesi tidak perlu. Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama, itu tergantung kebijaksanaan para pembaca untuk menilainya dan menjalankan perhitungan yang mencatumkan zakat profesi atau tidak. Beberapa riwayat hadist dan ayat dalam Al Quran tentang zakat yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan pembaca perihal zakat antara lain:
Surat at Taubah ayat 103:
Pungut zakat dari kekayaan mereka, berarti kau membersihkan dan mensucikan mereka dengan zakat itu, kemudian doakanlah mereka, doamu itu sungguh memberikan kedamaian buat mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Demikian juga sebuah riwayat hadist, malaikat Jibril memberi pengajaran tentang zakat kepada kaum Muslimin dengan cara mengajukan pertanyaan yang menarik kepada Rasulullah, "Apakah itu Islam?" Nabi menjawab: "Islam adalah mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan naik haji bagi yang mampu melaksanakannya." (hadist muttafaq 'alaih).
Pungutan zakat profesi sejalan dengan perintah berzakat dalam ayat 103 surat at Taubah yaitu untuk membersihkan atau menyucikan harta dan mengembangkan harta itu sendiri serta menolong para mustahiq (orang yang berhak menerima zakat). Zakat profesi juga merupakan cermin rasa keadilan yang merupakan ciri utama ajaran Islam, yaitu kewajiban zakat pada semua penghasilan dan pendapatan.
Mengenai pos saving atau tabungan merupakan hal yang sangat bijak jika kita mampu memiliki cadangan pendapatan yang kita sisihkan setiap bulan sebagai media berinvestasi yang aman di bank jika kita bukan seorang yang belum berbakat untuk berinvestasi dalam sektor usaha produktif atau sebagai seorang wirausahawan. Pos tabungan juga merupakan cadangan uang yang sewaktu waktu bisa kita tarik untuk kebutuhan penting yang sangat mendesak dan tidak kita duga dalam perkiraan pengeluaran bulanan kita yang membutuhkan uang tunai secara cepat. Dalam pos saving ini juga terdapat filosofi tentang hidup hemat karena pada dasarnya hemat merupakan suatu hal yang sederhana untuk dipraktekan, dalam hal ini Allah berfirman dalam alquran agar kita berhemat dan jangan berlaku boros salah satunya dalam surat Al Isra ayat 26 dan 27 yang artinya:
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, kepada orang-orang miskin dan yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu dengan boros
Ayat ini menerangkan agar kita menyedekahkan harta kita kepada orang lain misalnya orang miskin dan musyafir dan juga saudara kita sendiri yang membutuhkan, kemudian kita diperintahkan jangan menghambur-hamburkan uang atau boros atau dengan arti lain kita diperintah Allah untuk berhemat. Kemudian dilanjutkan ayat 27 yang artinya:
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan, dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada TuhanNya
Ayat ini menerangkan tentang sifat manusia yang melakukan pemborosan adalah sekutu dari syetan. Allah sangat tegas dalam menyebut seorang pemboros adalah saudara dari syetan sehingga dapat kita gambarkan betapa buruknya sifat pemboros itu yang berlawanan dengan sifat hemat.
Kedua ayat diatas merupakan peringatan Allah agar kita bijaksana dalam mengelola harta dan hal ini merupakan perintah yang sangat baik agar kita dapat berlaku hati-hati dan introspeksi diri mengenai perilaku kita mengelola harta, apakah kita termasuk golongan yang disebut Allah sebagai saudara syetan dan sedang asyik dengan menghamburkan harta tanpa melihat orang lain dan tidak memikirkan masa depan jika harta itu diambil oleh Allah dan dimintai pertanggungjawaban ataukah kita sudah berperilaku yang bijaksana dalam memperlakukan harta titipan kita dengan cara berhemat namun tak lupa memberi untuk orang lain? Mari kita renungkan dan introspeksi diri.
Pos Tabungan berencana BSM memberikan kita kenyamanan dalam sistem insurance coverage yang bersifat syariah. Pertanggungan asuransi sangat penting karena kita tidak tahu bagaimana masa depan kita karena masih bersifat gaib dan dalam genggaman Allah.Pos ini memberikan kita perlindungan yang baik terhadap kejadian masa depan yang akan menimpa kita. Selain itu pos ini merupakan sarana tidak langsung yang menjadi tambahan dalam pos saving kita karena jika mas pertanggungan asuransi itu telah habis uang yang kita masukan dalam pos Tabungan berencana BSM akan menambah nilai nominal pada pos saving kita jika kita berkehendak bijak untuk memasukannya sebagai dana investasi di bank.
Dalam hal ini Al Quran tidak menyebutkan secara tegas mengenai praktek asuransi namun didalam Al Quran disebutkan beberapa ayat yang mampu mengakomodir mengenai asuransi yaitu proteksi terhadap kondisi masa depan seperti disebutkan dalam surat Yusuf ayat 46-49 dalam ayat itu disebutkan bahwa Nabi Yusuf melakukan pencegahan atau proteksi paceklik selama 7 tahun dengan menyimpan bahan makanan untuk 7 tahun kedepan sehingga bangsa mesir waktu itu bisa selamat dari bahaya kelaparan dan kerugian ekonomi dalam teori ekonomi modern hal ini apa yang dilakukan Nabi Yusuf bisa disebut Hedging. Selain itu di dalam Al Quran Allah swt juga telah mengingatkan kepada kita dalam surat Al Hasyir ayat: 18, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhna Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan”. QS. 59:18.
Gaibnya masa depan membuat kita harus merencanakan dengan baik sehingga kita tidak terjerumus dalam penyesalan karena tiada mampu mengelolanya. Pos tabungan berencana BSM berperan sebagai solusi proteksi untuk masa depan kita.
Harta harus selalu disikapi sebagai bentuk titipan atau amanah dari Allah sehingga kita mampu mengendalikan diri dan memanfaatkannya pada proporsi yang diridloi Allah dan mampu memberikan manfaat atau kemaslahatan bagi diri sendiri dan juga orang lain. Dengan begitu kita akan menjadi tenteram dan merasa iklas dalam mengelolanya. Semoga kita menjadi bagian dari sebuah solusi umat dan bermaanfaat bagi umat dengan cara memulai pada diri sendiri yaitu dalam pengelolaan harta pribadi yang syar’i, yang diridloi Allah sebagai pemilik sejati dari harta karena kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas harta yang dititipkan pada kita.
Subhanaka allahuma wa bihamdika ashadu alla ilahailla anta astafiruka wa atubuuhu ilaik.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
E_Mail :
HP : 081 392 375 988
PT. Bank Syariah Mandiri
Kantor Cabang Yogyakarta
Jl.Cik Di Tiro No.1
Yogyakarta
Rabu, 08 Oktober 2008
Baik Hati
Wall of Motivation: 9 oct 08
Hati
Sudah berkali kali tembok ditancapkan paku, lalu dicabut lagi paku itu…
Meski sudah dicabut, ditembok tetep ada bekasnya, bekas dipaku.
……..itulah perumpamaan……..
Ketika kita berkali kali melukai hati seseorang, kemudian kita dimaafkan..
Meski sudah dimaafkan, dihati seseorang tetap ada bekasnya, bekas dilukai
……….sebagai pengingat………
Perumpamaan ini mengingatkan kita untuk bersikap dan berbuat baik
dengan orang lain, berhati-hati untuk tidak melukai hati
……….hati pernah terluka……
Sementara orang berfikir luka itu ditambal saja,
……..pertanyaannya…….
Semudah itukah bekas luka itu hilang?
……sadari dan cermin diri…….
Untuk mengendalikan diri, melawan diri sendiri untuk menjaga hati
Smoga kita selalu menjadi pribadi yang baik hati disisi Tuhan dan
Memberi manfaat untuk orang lain.
menangan dewe
Wall of Motivation: 9 0ct 08
A_r_o_g_a_n_s_i
Arogansi artinya kesombongan, keangkuhan atau kecongkakan. Dari mana arogansi ini timbul atau produk siapakah arogansi ini?
Seorang anak dengan bangganya mengatakan bahwa tadi di sekolah dalam berlomba ia berhasil menang dan mendapatkan juara. Dia juga mengatakan "Saya bisa ini......, saya bisa itu....! Temannya bodoh, yang begitu saja tidak bisa dan lain sebagainya!"
Yang ingin disampaikan oleh si anak adalah bahwa "Dia paling bisa, paling pintar, dan paling .... Paling lainnya".
Terlihat bahwa sejak kecil lingkungan kita telah mengajarkan kita untuk berkompetisi dan berkompetisi. Hasilnya adalah suatu "penilaian" atau "angka". Entah itu nilai dalam bentuk angka-angka (hadiah) atau kelebihan terhadap orang lain.
Pasti anak ini mengerti tidak mengerti bahwa: "perlombaan" atau "persaingan" ini akan memberikan dampak yang positif dan negatif terhadap dirinya.
Dampak positifnya yaitu "kebanggaan diri" yang menjadikan dia makin "percaya diri".
Dampak negatifnya yaitu "arogansi" .... Dialah yang "paling ..... wah (hebat)!".
Ok! Yach, inilah dunia anak ....!
Selanjutnya ..... anak ini tidak akan selamanya bermain dengan "Dunia Anak"-nya terus. Ia pun akan beranjak remaja dan dewasa.
Nah, pasti .... apa-apa yang telah ditanamkan sejak kecil akan dibawanya dan diterapkan juga pada pola kehidupan nyata saat ia dewasa kelak misalnya ketika dia berkuasa dan memimpin.
Disini terlihat bahwa "pola / kerangka berpikir" si anak telah dibentuk selama perjalanan hidupnya menuju kedewasaannya.
Bersaing ..... menghasilkan kerangka berpikir - pola banding.
Sadar atau tidak sadar, tindak tanduk serta sikapnya akan memberi andil pada lingkungan dimana dia bermasyarakat.
Kalau dihubungkan dengan kita , disinilah salah satu pokok persoalan yang harus dibenahi.
Solusinya / jawabannya sih sederhana sekali yaitu "Asalkan kita bisa sadar", maka tidak ada persoalan lagi.
Kenyataannya tidak semudah seperti apa yang dituliskan diatas, asal SADAR maka semuanya beres.
Beratus-ratus tahun sampai sekarang bahkan sesama saudara sendiripun masih ada saja (bahkan banyak lho!) yang saling melecehkan bahkan terhadap saudara sendiri.
"Kalau tidak ada persaingan maka tidak ada penilaian"
Dengan tidak adanya penilaian, niscaya tidak akan ada yang "Paling ..... wah hebat", sehingga tidak timbul arogansi.
Pengertian diatas perlu direnungkan dengan seksama, apa makna semua ini?
Dengan kerangka berpikir - pola banding / membandingkan, maka akan menghasilkan kesadaran yang masih cenderung bersinggungan dengan arogansi ini.
Nah lho .... bagaimana ini?
Salahkan kita menggunakan kerangka berpikir - pola banding ini?
Kebanyakan pola banding yang kita pakai adalah pola banding terhadap luar kita, artinya kita selalu membanding-bandingkan diri kita terhadap orang lain atau sebaliknya, juga diri orang lain terhadap yang lainnya.
Coba deh kalau kita memakai kerangka accu-nya adalah diri kita sendiri dan pola banding-nya adalah internal (terhadap diri sendiri), maka hanya: "waktu"-lah sebagai indikatornya, yaitu sebelum berkuasa kita begitu dan sesudah berkuasa kita begini.
Bukan sebelum berkuasa diam saja, setelah berkuasa lalu menganggap dirinya kuat dibanding dengan lainnya dan meremehkan yang belum berkuasa atau sombong / arogan terhadap sesama saudara yang lain.
Yang kemudian malah menjadikan "mandeg" / berhenti dalam kemajuan nya.
Ini menandakan bahwa adanya ketidakpuasan / keirian dibalik kesombongan dalam dirinya, karena selalu membandingkan dirinya terhadap orang lain. Sehingga terkadang frustasi tidak mengerti mengapa bisa demikian?
Ada pula arogansi lain, produk dari kerangka berpikir - pola banding ini. Biasanya menjalar pada mereka yang merasa dirinya lebih tinggi, lebih senior, atau .... lebih-lebih lainnya .... dari kacamata lingkungan sekitar dan atau dirinya.
Mengapa merasa "lebih"? .... Karena melihat orang lain "kurang".
Inikah yang kita mau dalam proses kita menjadi lebih baik ? Pasti tidak!
Kalau kita telah berhasil menjadikan diri kita diatas semua "kekurangan" orang lain (lebih dari si dia ini dan dari si anu itu atau orang ini kurang ini dan orang itu kurang itu). Lalu apakah kita sudah disebut berhasil?
Masih jauh dari kesempurnaan, sebab disaat diri kita merasa "lebih" (menjadikan kita arogan), disitulah letak kekurangannya.....
Celakanya kalau orang kena "virus arogansi" ini, tidak merasakannya, bahkan sebaliknya mengatakan bahwa orang lain yang "arogan"! Ha...ha...ha...
Lalu kita harus minum apa? Eh salah, kita harus bagaimana agar diri kita tidak arogan?
Kembali lagi "sadar" ..... beres khan?
Lebih baik .... Hapuskan arogansi dari kamus diri kita.
Semuanya mengacu dari dalam diri sendiri. Kerangka berpikir - pola banding-pun internal yaitu membandingkan diri sendiri sebelum dan sesudah ..... sepanjang masa. Rendah hati dan lapang dada. Itulah modal menuju "sadar" yang hakiki dan benar.
Arogan ....? Tidak.....Hanya percaya diri!
Bingung? ....Jangan!
Nyanyikan lagu!.... jagalah hati .... jangan kau nodai.....
Rabu, 03 September 2008
The Ladder of Life
Wall of Motivation:
Based on true story
The ladder of life
(True story part 1)
Kaki yang lelah itu mengayuh pedal mesin jahit yang sudah tua, “Hari ini pesanan bu Dhani harus sudah selesai” gumamnya dalam hati. Penjahit yang belum professional itu bernama Arini, gadis berusia 18 tahun lulusan SMA. Arini memiliki latar belakang keluarga yang secara ekonomi tidak mampu membiayai pendidikan anaknya ke jenjang kuliah.
Dengan latar belakang itulah yang membuat Arini menjadi gadis yang kuat, dia ingin mengubah air mata menjadi air keringat, karena hidup menuju sukses adalah dengan meniti tangga yang tinggi dan berat dan diperlukan perjuangan dan cucuran keringat bukan air mata belas kasihan orang lain.
Setelah lulus SMA, Arini ingin sekali melanjutkan ke bangku kuliah, namun daya dari keluarga tidaklah mampu menerbangkannya dalam mimpi yang tinggi dan indah. “ Aku akan berjuang, There is a will there is a way”. Semangat baja yang tumbuh dari hati seorang gadis muda.
Keahlian yang di miliki Arini adalah menjahit meskipun bukan seorang profesional dia melakukannya dengan tekun dan bersungguh-sungguh, seperti kebiasaan sifat seorang yang berkepribadian kholeris kuat, dia akan melakukan upaya apa aja mencapai mimpi.
Upaya yang penuh harga diri dan kebanggaan karena dia mandiri tanpa bantuan orang lain melainkan hanya sedikit.
Dalam perjuangannya menjadi penjahit dan hidup dalam keterbatasan dan kadang lirikan sebelah mata orang lain selama satu tahun Arini mampu menabung untuk biaya kuliah, tibalah suatu masa penerimaan mahasiswa baru universitas negeri, kalangan akademis biasa menyebutnya UMPTN. Arini mendaftar di UGM jurusan Fisipol dan Diploma Ekonomi jurusan Akuntansi UGM, demi mewujudkan rindunya tentang mimpi sukses dan dengan tekad seorang Kholeris kuat dia belajar keras.
Sungguh Tuhan Maha Pemurah lagi Maha Penyayang dan tiada menyia-nyiakan doa dan usaha hambaNya, Arini diterima di dua fakultas yang berbeda namun di universitas yang sama. “Trimakasih Tuhan, aku telah dekat dengan mimpiku” saat inilah Arini baru bisa meneteskan air mata, air mata syukur, air mata syahdu betapa Tuhan sangat menyayanginya.
Namun ada kebimbangan dalam hatinya karena dia harus memilih salah satu dari fakultas yang menerimanya. Tiada daya upaya yang lebih baik selain minta pertolongan Tuhan Yang maha Baik. Arini berdoa dalam sujud istiqarah dia memohon “ Tuhan berikanlah aku pilihan yang terbaik”.
Esok pagi usai sujud subuh yang cerah ditanamkan oleh Tuhan dalam benak dan hatinya suatu kemantapan pilihan bahwa Diploma Ekonomi Akuntansi UGM adalah pilihan yang paling tepat untuknya.
Satu tangga hidup Arini daki dan capai lagi yaitu sebagai mahasiswi Diploma Ekonomi Akuntansi UGM…… to be continues
Selasa, 02 September 2008
Sahadat Di Telapak Tangan Manusia
Wall of Motivation:
Sahadat Di Telapak Tangan Manusia
“Allah menghitung segala sesuatu satu persatu/ secara detail (QS 72:28)
Telapak tangan manusia kanan dan kiri merupakan penggabungan kalimat sahadat yang di ukir Allah diatas anggota tubuh manusia....
Mari kita simak:
Telapak sebelah kiri terdapat garis tangan yang berupa huruf V terbalik dan huruf I,dalam angka arab huruf V terbalik berarti angka 8 dan huruf I berarti angka 1, berarti angka 81, sedangkan ditangan kanan kita terdapat huruf I dan V terbalik yang artinya angka 18.
Mari kita hitung kedua angka itu:
81 + 18 = 99
81 - 18 = 63
99 mewakili Asmaul Husna/ nama-nama Allah yang baik
63 mewakili Umur nabi Muhammad ketika Wafat
Jadi terdapat dua unsur yaitu:
Allah dan Nabi Muhammad
Hal ini berarti telapak tangan kita telah diukir kalimat sahadat dalam bentuk garis tangan yaitu kesaksian kita bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulallah.
Tidak ada yang kebetulan bagi Allah seperti dalam firmanNya dalam Al Quran, “Allah menghitung segala sesuatu satu persatu/ secara detail (QS 72:28)